Industri Gim Nasional Didorong Jadi Tulang Punggung Ekonomi Digital

Audiensi Asosiasi Game Indonesia (AGI) dengan Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid bersama Jajaran Kemkomdigi. Jumat 16 Mei 2025. Foto/Dok: Ist

NEINEWS, Jakarta — Pemerintah kembali menaruh harapan besar pada sektor kreatif sebagai motor baru pertumbuhan ekonomi. Kali ini, industri gim nasional diposisikan sebagai salah satu tumpuan untuk mengerek pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen—sebuah ambisi besar yang dibarengi janji dukungan konkret.

Dalam audiensi bersama Asosiasi Game Indonesia (AGI), Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menegaskan bahwa pemerintah tengah menyusun kebijakan strategis untuk mendukung ekosistem industri gim lokal, baik dari sisi talenta, investasi, hingga pasar.

“Industri gim memiliki kecenderungan tumbuh pesat dan nilai ekonomi yang sangat tinggi. Ini bisa menjadi salah satu sektor pengungkit utama menuju target pertumbuhan ekonomi 8 persen,” ujar Meutya, Jumat (16/5/2025).

Namun, di balik proyeksi besar itu, kenyataan pahit masih membayangi pengembang lokal: dari nilai pasar gim nasional yang mencapai Rp30 triliun per tahun, hanya 2,5 persen yang dinikmati oleh developer dalam negeri.

“Itu berarti 97,5 persen nilai pasar justru dikuasai oleh produk asing,” tegas Shafiq Husein, Ketua Umum AGI. “Ini bukan hanya soal bisnis, tapi juga soal kedaulatan digital.”

Kesenjangan ini memperlihatkan bahwa industri gim nasional masih terkunci pada posisi sebagai pasar, bukan produsen utama. Hambatan terbesar menurut AGI adalah akses terhadap pendanaan awal, minimnya dukungan produksi, dan ketimpangan distribusi pasar.

“Pengembang lokal sulit berkembang tanpa akses ke pendanaan yang memadai dan insentif yang berpihak. Kita butuh keberpihakan yang nyata,” lanjut Shafiq.

Sebagai langkah awal, Kemkomdigi mengumumkan peluncuran program Innovation Hub di Jakarta, Medan, dan Surabaya untuk memperkuat studio-studio lokal dan melatih talenta digital baru. Selain itu, ajang tahunan Indonesia Game Developer Exchange (IGDX) akan kembali digelar pada 9–11 Oktober di Bali, dengan Sony PlayStation dan Steam dijadwalkan hadir sebagai bagian dari ekspansi mereka ke pasar Indonesia.

“IGDX bukan hanya pameran, ini momentum konsolidasi industri dan diplomasi dagang digital,” ujar Edwin Hidayat Abdullah, Dirjen Ekosistem Digital Kemkomdigi.

Namun, membangun ekosistem tak cukup dengan pelatihan dan festival. Pertanyaan besarnya: apakah negara siap menjamin ruang tumbuh yang adil bagi developer lokal di tengah dominasi korporasi global? Jika tidak, industri gim lokal hanya akan menjadi mitra kecil di tengah arus besar ekonomi digital internasional.

Dalam forum yang sama, Meutya menegaskan pentingnya dialog langsung dengan pelaku industri agar kebijakan yang lahir benar-benar tepat sasaran, bukan sekadar jargon pembangunan.

“Disisir dulu semua potensi kolaborasi yang konkret, mana yang bisa dibantu segera—kami akan ambil keputusan dalam waktu dekat,” ucapnya.

Masa depan ekonomi digital Indonesia tak bisa dibangun di atas euforia, tapi harus berdiri di atas keberanian untuk membangun kemandirian teknologi dan mendobrak dominasi platform global. Industri gim bisa jadi andalan asal diberi ruang, dilindungi, dan dikembangkan bukan hanya sebagai bisnis, tetapi sebagai ekspresi budaya dan kekuatan ekonomi bangsa.

Jika negara serius, maka pertanyaan selanjutnya bukan hanya “berapa besar nilai pasarnya?”, tapi “berapa persen yang benar-benar kembali ke tangan anak bangsa?”

Editor: Alfridho Ade Permana

Exit mobile version