Menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang didistribusikan SPPG Gading Cempaka Permai Kota Bengkulu dikembalikan oleh SMA Negeri 7 Kota Bengkulu, Kamis (3/9/2026). Pihak SPPG menyebut lauk ikan dalam kondisi basah bukan karena belum matang, melainkan bagian dari karakter olahan ikan tepung crispy. Foto/Dok: Ist-Ilustrasi Ai Neinews
BENGKULU, NEINEWS – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali mendapat sorotan. Salah satu sekolah penerima manfaat MBG di Kota Bengkulu, SMA Negeri 7 Kota Bengkulu, disebut menolak dan mengembalikan menu makanan yang didistribusikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Gading Cempaka Permai, Kamis (3/9/2026).
Informasi yang diterima NEINEWS menyebutkan, pihak sekolah menolak menu MBG karena menilai kondisi lauk ikan yang disajikan tidak layak dikonsumsi. Lauk tersebut disebut dalam kondisi berair dan diduga belum matang sehingga dikhawatirkan berisiko terhadap kesehatan siswa.
Kepala SPPG Gading Cempaka Permai Kota Bengkulu, Rahmat Nuzuldi Prayogo, membenarkan adanya pengembalian menu MBG oleh pihak SMA Negeri 7 Kota Bengkulu.
Menurut Prayogo, pengembalian tersebut berkaitan dengan lauk ikan yang dinilai pihak sekolah dalam kondisi berlendir.
“Kalau soal lauk itu memang dibuat ikan tepung crispy. Ikannya memang tidak dibikin garing, nanti hilang nilai gizinya. Dari 18 titik pendistribusian, hanya satu titik di sekolah tersebut yang mengembalikan. Yang lainnya aman,” ujar Prayogo saat dikonfirmasi, Kamis (3/9/2026).
Ia menjelaskan, tim lapangan SPPG telah berkomunikasi dengan koordinator MBG atau guru yang menjadi PIC di sekolah terkait persoalan tersebut. Namun, pihak sekolah saat itu disebut sedang memiliki kegiatan di luar.
“Rencana kami mau kunjungan ke sekolah besok. Tapi setelah dikonfirmasi, kepala sekolahnya keluar karena besok ada kunjungan dari Inspektorat. Paling nanti kami ketemu dengan PIC-nya,” katanya.
Prayogo juga menyampaikan permohonan maaf apabila kondisi makanan yang diterima sekolah memang dinilai tidak sesuai.
“Iya, kalau kami, yang namanya benar atau tidak, kami selaku bagian pendistribusian MBG minta maaf kalau kondisinya seperti itu,” ucapnya.
SPPG Klaim Menu Aman
Lebih lanjut, Prayogo memastikan seluruh menu MBG yang didistribusikan ke titik penerima lainnya dalam kondisi aman. Ia mengatakan proses pengolahan makanan dilakukan dengan standar dan perlakuan yang sama.
“Semua menu MBG yang didistribusikan dari seluruh titik semuanya aman. Kondisinya sama, penggorengannya sama, tidak ada yang dibedakan,” jelasnya.
Terkait penolakan di SMA Negeri 7, Prayogo menyayangkan apabila penilaian terhadap makanan dilakukan hanya berdasarkan pemeriksaan oleh pihak sekolah tanpa melibatkan siswa sebagai penerima manfaat.
Ia menyebut pihak sekolah membuka dan memeriksa sejumlah ompreng makanan sebelum akhirnya memutuskan mengembalikan menu ikan tersebut.
“Yang tidak bisa kami lakukan yaitu ketika penolakan itu penilaian dari guru tanpa melibatkan siswa. Siswa belum tahu-menahu kondisinya,” ujarnya.
Menurut Prayogo, dari sejumlah ompreng yang diperiksa pihak sekolah, terdapat sekitar lima ompreng yang dibuka. Namun, menurutnya, hanya satu ompreng yang direkam dan kemudian menjadi dasar persoalan.
Ia membantah anggapan bahwa kondisi ikan yang terlihat basah menunjukkan lauk tersebut belum matang.
“Yang mereka videokan itu isinya mungkin juicy. Abang tahu sendiri kan bentuk daging juicy, ibaratnya masih basah. Basahnya bukan karena belum masak. Memang namanya goreng tepung tidak garing,” katanya.
Prayogo menjelaskan, berdasarkan penilaian chef dan ahli gizi yang terlibat dalam proses pengolahan, kondisi tersebut bukan disebabkan ikan yang belum matang.
“Kalau dari chef dan ahli gizi, kondisinya memang seperti itu, bukan karena tidak masak, amis dan lain-lain,” jelasnya.
Ia menambahkan, pihak SPPG juga menerima informasi bahwa pihak sekolah memilih untuk tidak mengonsumsi lauk ikan dalam menu MBG tersebut.
“Kalau dari keterangan mereka, ada chat dengan saya. Mereka menolak mengonsumsi ikan, menu ikan itu mereka tidak mau di sekolah itu,” pungkas Prayogo.
Pewarta: Alfridho Ade Permana
