Plt Direktur RSJKO Bengkulu, Leni Marlina: Perubahan Butuh Dengar dan Kerja Nyata

Leni Marlina, S.Si., Apt., M.Sc ditunjuk sebagai Plt Direktur RSJKO Soeprapto Bengkulu menggantikan Jasmen Silitonga. Foto/Dok: Ist 

NEINEWS, BENGKULU – Rumah Sakit Jiwa dan Ketergantungan Obat (RSJKO) Soeprapto Bengkulu resmi berganti kepemimpinan. Lewat Surat Keputusan Gubernur Bengkulu, Helmi Hasan, Leni Marlina, S.Si., Apt., M.Sc ditunjuk sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Direktur menggantikan Jasmen Silitonga yang mundur dari jabatan.

Pergantian ini tak sekadar formalitas birokrasi, melainkan momentum penting bagi pembenahan layanan publik di sektor kesehatan jiwa dan adiksi. Leni Marlina sebelumnya menjabat sebagai Pejabat Perencana RSJKO. Ia datang bukan sebagai orang baru, melainkan sebagai bagian dari tubuh rumah sakit yang tahu betul tantangan dari dalam.

“Saya akan berupaya semaksimal mungkin menjalankan amanah ini. Ini tanggung jawab besar yang tak bisa ditunaikan sendirian,” kata Leni usai prosesi serah terima jabatan yang digelar pada Jumat, 23 Mei 2025. Acara tersebut turut dihadiri Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu, Redhwan Arief.

Leni menekankan bahwa kepemimpinan bukan soal posisi, melainkan bagaimana menjadikan rumah sakit sebagai ruang layanan yang manusiawi, inklusif, dan berbasis empati.

“Saya percaya perubahan dimulai dari ruang dengar yang terbuka. Kami ingin rumah sakit ini lebih transparan, lebih mendengarkan, dan lebih bisa dipercaya publik,” tegasnya.

Ia juga menambahkan akan segera melakukan evaluasi internal dan menampung masukan dari seluruh staf dan tenaga medis. “Saya tidak akan jalan sendiri. Semua harus dilibatkan. Itu prinsip saya,” ujarnya.

Langkah awal yang akan diambil adalah memperkuat komunikasi lintas unit serta membangun ruang kritik yang sehat, termasuk dengan media. “Kita tidak bisa bangun rumah sakit yang baik kalau takut dikritik,” katanya lugas.

Jabatan Plt ini Leni emban di tengah transisi penting. Jasmen Silitonga, yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur, memilih kembali ke jabatan fungsional sebagai dokter hingga masa pensiunnya pada 2026.

Tugas berat menanti. Namun Leni tampak sadar betul: memperbaiki rumah sakit bukan sekadar administrasi, tapi soal keberanian menempatkan kemanusiaan di pusat pelayanan. (Adv)

Editor: Alfridho Ade Permana

Exit mobile version