Tanggapan DLH, Pohon Mati di Kawasan Belungguk Point Ditanam Kembali

Penanaman pohon yang mati di kawasan Belungguk Point, Jalan S. Parman, Kota Bengkulu. Foto/Dok. Jumat, 25 September 2026: Ist- Neinews

BENGKULU, NEINEWS — Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bengkulu memberikan tanggapan terkait sorotan Green Sumatera mengenai pemangkasan pohon di kawasan Belungguk Point, Jalan S. Parman, Kota Bengkulu.

Sebagai tindak lanjut atas kondisi sejumlah pohon yang mati, pihak kontraktor pelaksana pekerjaan Belungguk Point melakukan penyulaman atau penanaman kembali pohon di sejumlah titik kawasan tersebut.

“Kegiatan penyulaman tersebut dilakukan oleh pihak kontraktor dengan didampingi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bengkulu,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bengkulu, Anshar Amin kepada Neinews, Jumat (25/9/2026).

Jenis pohon yang ditanam kembali dalam kegiatan penyulaman tersebut jelas Anshar yakni pohon jenis mahoni.

Sebelumnya, Direktur NGO Green Sumatera, Sahipul Anwar, S.H., menyoroti kondisi sejumlah pohon di kawasan Belungguk Point setelah dilakukan pemangkasan. Sekitar 16 pohon dilaporkan mengalami kematian.

Green Sumatera mempertanyakan proses pemangkasan tersebut, termasuk apakah pelaksanaannya telah sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) serta bagaimana pemeliharaan pohon setelah dilakukan pemangkasan.

Menanggapi sorotan tersebut, Kepala DLH Kota Bengkulu, Anshar Amin, menjelaskan bahwa pemangkasan pohon yang dilakukan di kawasan Belungguk Point telah mengikuti standar.

Menurut Anshar, kematian sejumlah pohon tidak serta-merta dapat disimpulkan disebabkan oleh proses pemangkasan. Pasalnya, setelah dilakukan pemangkasan, sejumlah pohon sempat kembali tumbuh.

Ia menyebut masih terdapat kemungkinan faktor lain yang memengaruhi kondisi pohon hingga mengalami kematian.

Salah satu kemungkinan yang menurutnya perlu diperhatikan adalah kondisi akar pohon yang diduga terdampak pekerjaan pembangunan atau penataan kawasan Belungguk Point.

“Pemangkasan yang dilakukan sudah sesuai dengan standar. Ketika pohon dipangkas sudah tumbuh kembali, cuma ada beberapa yang kawan-kawan lihat mati. Mungkin itu karena faktor lain,” ujar Anshar saat diwawancarai Neinews belum lama ini.

Menurutnya, pekerjaan trotoar maupun pembangunan kawasan Belungguk Point berpotensi memberikan pengaruh terhadap kondisi akar pohon.

“Di belengguk point kan ada pengerjaan trotoar, proyek Belungguk Point itu. Barangkali ada perlakuan terhadap akar, itu mungkin yang menyebabkan beberapa pohon mati, tapi tidak semua dan dugaannya seperti itu,” jelasnya.

Kontraktor Lakukan Penyulaman

Sebagai tindak lanjut terhadap pohon yang mati, pihak kontraktor Belungguk Point kemudian melakukan penyulaman di kawasan tersebut.

Proses penanaman kembali dilakukan dengan pendampingan dari DLH Kota Bengkulu. Pohon yang digunakan untuk menggantikan tanaman yang mati adalah jenis mahoni.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mengembalikan keberadaan vegetasi di kawasan Belungguk Point sekaligus menjaga fungsi penghijauan di ruang publik.

DLH Kota Bengkulu menyatakan penyulaman tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga keteduhan, keindahan serta kualitas udara di ruang terbuka publik.

“Penyulaman ini untuk menjaga keteduhan, keindahan, dan kualitas udara di ruang terbuka publik. Pohon yang ditanam kembali diharapkan dapat tumbuh optimal dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat,” ujar Anshar.

DLH juga menyatakan komitmennya untuk terus merawat dan menghijaukan Kota Bengkulu agar tetap asri, nyaman dan berkelanjutan.

Penyebab Pohon Mati Masih Perlu Dipastikan

Meski penyulaman telah dilakukan, penyebab pasti kematian masing-masing pohon di kawasan Belungguk Point masih perlu dipastikan melalui pemeriksaan teknis.

Sebab, dalam persoalan tersebut terdapat beberapa kemungkinan yang menjadi perhatian. Green Sumatera sebelumnya mempertanyakan kemungkinan hubungan antara pemangkasan dengan kondisi pohon yang mati.

Sementara itu, DLH Kota Bengkulu menyebut pemangkasan telah dilakukan sesuai standar dan membuka kemungkinan adanya faktor lain, termasuk kondisi akar yang mungkin terdampak pekerjaan penataan kawasan.

Karena itu, kematian pohon tersebut belum dapat secara definitif dikaitkan hanya dengan proses pemangkasan tanpa adanya pemeriksaan teknis lebih lanjut.

Di sisi lain, penyulaman yang dilakukan kontraktor dengan pendampingan DLH menjadi langkah konkret untuk mengganti pohon yang telah mati.

Jenis mahoni yang ditanam diharapkan dapat tumbuh dan kembali memberikan fungsi ekologis serta estetika bagi kawasan Belungguk Point.

Selanjutnya, keberhasilan penyulaman juga akan bergantung pada pemeliharaan pohon setelah penanaman, termasuk penyiraman, perawatan serta pemantauan pertumbuhan.

Dengan adanya penyulaman tersebut, perhatian publik kini tidak hanya tertuju pada penyebab matinya pohon sebelumnya, tetapi juga pada bagaimana pohon pengganti dapat tumbuh dan terpelihara dengan baik.

Pewarta: Alfridho Ade Permana

Exit mobile version