Direktur Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi, Adi Junedi saat Pemaparannya dalam Media Gathering dan Buka Puasa Bersama di Hotel Mercure Bengkulu. Rabu, 11 Maret 2026. Foto/Dok: Ist-Alfridho
NEINEWS, BENGKULU– Awal tahun 2026 menjadi periode yang tidak mudah bagi Bengkulu. Banjir melanda berbagai wilayah secara bergantian sepanjang Januari hingga Februari. Kota Bengkulu, Kabupaten Seluma, Bengkulu Selatan, hingga Kepahiang mengalami luapan air yang datang setelah hujan deras mengguyur berjam-jam.
Bencana ini tidak hanya menghadirkan genangan, tetapi juga disertai angin kencang yang menumbangkan pohon dan baliho di sejumlah ruas jalan. Setelah angin mereda, hujan deras kembali turun dan memperparah kondisi banjir di beberapa wilayah.
Rangkaian peristiwa ini memunculkan pertanyaan besar: mengapa banjir kini terasa semakin sering terjadi?
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), cuaca ekstrem yang melanda Bengkulu dipicu oleh aktivitas tiga bibit siklon tropis di Samudra Hindia.
Salah satunya adalah bibit siklon 90S yang membawa angin kencang hingga 35 knot serta potensi hujan lebat di wilayah barat Sumatera. Kondisi tersebut berdampak pada meningkatnya intensitas hujan sekaligus mengganggu aktivitas masyarakat.
Di saat yang sama, BMKG juga memprediksi musim kemarau akan datang lebih cepat pada 2026, yakni mulai April di sejumlah wilayah Indonesia. Provinsi Bengkulu bersama Riau dan Sumatera Barat diperkirakan akan mengalami kemarau yang lebih kering.
Pergantian musim yang berlangsung cepat ini ditambah fenomena siklon tropis Senyar pada akhir 2025 hingga awal 2026 serta ancaman kemarau panjang menjadi sinyal kuat bahwa anomali iklim semakin nyata. Perubahan iklim global kini tidak lagi terasa jauh; dampaknya hadir langsung di sekitar kehidupan masyarakat.
Direktur Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi, Adi Junedi, menegaskan bahwa hutan memiliki peran vital dalam meredam dampak krisis iklim yang semakin terasa.
“Hutan merupakan tameng alami yang melindungi masyarakat dari berbagai risiko bencana ekologis.
Namun tameng tersebut kini semakin rapuh akibat perambahan dan alih fungsi lahan. Karena itu, upaya menjaga hutan harus menjadi tanggung jawab bersama,” ujar Adi Junedi dalam Media Gathering dan buka puasa bersama di Hotel Mercure Bengkulu, Rabu (11/3/2026).
Sayangnya lanjut Adi, kondisi hutan saat ini menghadapi berbagai ancaman serius. Pembukaan lahan, perambahan kawasan, kebakaran hutan, hingga alih fungsi hutan menjadi perkebunan sawit terus menggerus benteng ekologis yang tersisa.
Menjelang musim kemarau, ancaman lain yang perlu diwaspadai adalah meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan.
“Berdasarkan analisis citra satelit yang dilakukan KKI Warsi, pada awal tahun 2026 terdeteksi sebaran titik api di berbagai kabupaten dan kota di Bengkulu. Secara keseluruhan ditemukan 67 titik api, dengan tiga di antaranya berkategori confidence high,” jelasnya.
Ditambahkan Adi, Data ini menjadi peringatan dini bahwa pada musim kemarau 2026 potensi kebakaran hutan dan lahan perlu diantisipasi secara serius.
Menyadari pentingnya peran hutan dalam menghadapi perubahan iklim, KKI Warsi bersama masyarakat dan berbagai pemangku kepentingan terus mendorong langkah-langkah penguatan perlindungan hutan sekaligus meningkatkan ketahanan masyarakat.
Beberapa upaya yang dilakukan antara lain penguatan mitigasi kebakaran melalui pembentukan kelompok masyarakat patroli hutan, fasilitasi pengusulan perhutanan sosial di enam desa pada tiga kabupaten di Bengkulu, serta penguatan tata kelola hutan yang lebih lestari.
Upaya tersebut juga diperkuat melalui pembentukan forum dan kelompok kerja perhutanan sosial di tingkat daerah, serta pemberdayaan pemuda dan perempuan desa dalam pengelolaan sumber daya alam.
Selain itu, pendekatan ekonomi konservasi juga didorong dengan memberikan insentif bagi masyarakat yang menjaga hutan. Upaya adaptasi perubahan iklim turut dilakukan melalui penanaman mangrove serta pendampingan desa dalam implementasi Program Kampung Iklim (ProKlim).
Momentum Ramadan 2026 yang hadir di tengah situasi ini menjadi pengingat penting tentang tanggung jawab manusia dalam menjaga bumi. Dalam ajaran Islam, manusia diposisikan sebagai khalifah yang memiliki amanah untuk merawat keseimbangan alam.
Karena itu, menjaga hutan tidak hanya menjadi tugas pemerintah atau organisasi tertentu. Upaya ini membutuhkan keterlibatan semua pihak mulai dari masyarakat desa, pemerintah daerah, dunia usaha, hingga masyarakat luas.
Langkah sederhana seperti tidak membuka lahan dengan cara membakar, menjaga kawasan hutan dari perambahan, serta mendukung praktik pengelolaan hutan yang berkelanjutan dapat menjadi kontribusi nyata dalam melindungi lingkungan.
“Dengan kolaborasi berbagai pihak, Bengkulu diharapkan tidak hanya mampu menghadapi ancaman bencana, tetapi juga membangun ketahanan ekologis melalui pengelolaan hutan yang lestari. Pada akhirnya, menjaga hutan bukan sekedar melindungi pepohonan. Ia berarti menjaga sumber air, menjaga ketahanan pangan, serta menjaga masa depan generasi yang akan datang,” pungkas Adi Junedi.
Reporter: Alfridho Ade Permana
