Golf Merah Putih ala Helmi Hasan

Simbol Kemajuan atau Monumen Ilusi Populis Bantu Rakyat?

Oleh: Vox Populi Vox Dei

Lapangan Golf Merah Putih baru saja diresmikan Gubernur Bengkulu, Helmi Hasan, dengan gegap gempita dan jargon populis: “mendorong ekonomi dan olahraga.” Namun, di balik parade pujian, sambutan tokoh-tokoh elite, dan rencana turnamen nasional antar-gubernur, terselip ironi dan kecemasan publik—tentang arah pembangunan yang semakin elitis, menjauh dari denyut nadi rakyat jelata Bengkulu.

Alih-alih membangun pusat olahraga rakyat untuk bantu rakyat , Gubernur justru memilih golf—sebuah olahraga mahal yang secara historis lebih dekat dengan lapisan kelas atas, para pejabat, dan para pemilik modal. Mengapa golf yang dipilih, bukan lapangan futsal komunitas, stadion rakyat, atau sentra UMKM berbasis olahraga tradisional?

Ekonomi Daerah atau Ekonomi Segelintir Orang?

Dalam narasinya, Helmi Hasan menjual mimpi: bahwa golf bisa menghidupkan ekonomi rakyat. Ia menyebut UMKM tumbuh, pedagang kecil hadir, dan caddy lokal direkrut. Namun benarkah geliat ekonomi rakyat akan lahir dari green field dengan 9 hole yang lebih sering diisi elite politik dan pengusaha?

Faktanya, kawasan ini bukan wilayah padat ekonomi kerakyatan. Alih-alih menciptakan pemerataan ekonomi, proyek ini justru menjadi magnet baru bagi pembentukan “zona elit” baru menyempurnakan segregasi sosial di Bengkulu. Rakyat hanya jadi penonton, atau pengisi dekorasi “merakyat” agar lapangan golf ini punya nilai jual populis.

Golf dan Slogan Merah Putih: Simbol Nasionalisme Kosong

Penggunaan nama “Lapangan Golf Merah Putih” pun tak ubahnya selimut nasionalisme palsu. Di tanah yang sama, bumi Rafflesia perlahan dikikis oleh betonisasi ruang publik, diubah menjadi lanskap yang steril dan eksklusif. Nama “Merah Putih” yang seharusnya merangkul rakyat justru menjadi tameng retorika pembangunan yang tidak inklusif.

Kita tahu, golf bukan olahraga rakyat. Kita juga tahu, ruang terbuka hijau kota Bengkulu makin tergerus, dan kini malah dibingkai dalam kemewahan dan pengaruh. Ini bukan bentuk cinta pada negeri, tapi pemakaman sunyi terhadap prinsip keadilan sosial bagi seluruh rakyat Bengkulu.

Polda, Helikopter, dan Skandal PDAM: Kolaborasi atau Konsolidasi Kuasa dalam Golf Merah Putih?

Yang lebih problematik adalah keterlibatan institusi seperti Polda Bengkulu dalam Golf Merah Putih ini. Publik patut bertanya: apakah ini murni sinergi pembangunan, atau bagian dari konsolidasi kekuasaan menjelang tahun politik?

Perlu diingat, baru-baru ini publik juga digegerkan dengan rencana hibah helikopter oleh Pemprov Bengkulu diduga kaitan skandal politik 2024 melibatkan orang-orang partai dalam kasus PHL PDAM yang telah diambil alih oleh Kejaksaan Tinggi Bengkulu yang menyisakan aroma menyengat. Dalam konteks ini, keterlibatan Polda bisa dibaca bukan hanya sebagai mitra olahraga dengan Gubernur Helmi, tapi bagian dari persekutuan politik-birokrasi yang berbahaya. Jika benar, ini adalah bentuk baru politik patronase berbasis proyek “pengamanan” pembangunan, dengan rakyat sebagai korban.

Populisme Kosmetik dan Ancaman Terhadap Demokrasi Lokal

Apa yang dilakukan Helmi Hasan melalui proyek Lapangan Golf Merah Putih merupakan wajah baru dari populisme kosmetik—menggunakan simbol rakyat dan jargon ekonomi kerakyatan untuk menutupi arah pembangunan yang makin elitis dan transaksional.

Dengan jargon “membangun ekonomi,” Gubernur tampak sedang mendandani kekuasaan dengan kosmetik nasionalisme. Padahal, yang terjadi adalah perluasan ruang kekuasaan untuk elite lokal dan mitra-mitra politiknya. Apakah golf akan menjadi wajah masa depan Bengkulu? Ataukah ini hanya panggung baru bagi kelompok terpilih sambil mengubur harapan rakyat di bawah bendera merah putih?

Kesimpulan: Kemenangan Elite, Kekalahan Rakyat

Jika proyek ini terus dibiarkan tanpa evaluasi kritis, Bengkulu akan beralih rupa menjadi provinsi atraktif untuk investor dan elite, namun kian asing bagi rakyatnya sendiri. Alih-alih merayakan pembukaan lapangan golf, kita seharusnya berduka—karena sekali lagi, ruang publik rakyat digadai demi kepentingan segelintir orang.

Gubernur Helmi Hasan mungkin sedang menggali lubang… bukan untuk bunker golf, tapi untuk menguburkan idealisme keadilan sosial dan mimpi rakyat kecil Bengkulu.

Catatan Akhir:

Jika benar golf jadi olahraga rakyat, semoga minggu depan Helmi Hasan dan Kapolda bisa bermain kelereng di pasar tradisional, dengan rakyat sebagai penonton—atau peserta.

Vox Populi Vox Dei

Suara Rakyat adalah Suara Tuhan. Tapi di Bengkulu, tampaknya suara rakyat sedang ditutup bunker golf.

Exit mobile version