Bengkulu, Neinews.Org –Hamparan sawah yang luas membentang hingga jauh di cakrawala, menciptakan pemandangan hijau yang menenangkan. Selain menawarkan keindahan visual, lahan ini juga menjadi sumber utama penghidupan bagi para petani.
Pada awal Juli lalu, petani di Kecamatan Brang Ene, Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), mulai melakukan panen. Di tengah sawah yang luas, Mustamirin mengungkapkan rasa syukur. Ia bukan hanya merayakan hasil panen yang menguntungkan, tetapi juga merasa optimis bahwa tahun-tahun mendatang akan membawa hasil yang melimpah berkat Bendungan Tiu Suntuk yang baru saja selesai dibangun dan diresmikan oleh Presiden Joko Widodo. Sebelumnya, Mustamirin dan petani lainnya hanya bisa menanam dua kali dalam setahun karena kekurangan air. Ketika musim kemarau tiba, sawah mereka sering kekeringan. Bendungan ini menjadi harapan baru bagi mereka untuk meningkatkan kesejahteraan.
“Adanya Bendungan Tiu Suntuk memungkinkan kami untuk meningkatkan panen dari dua kali menjadi mungkin tiga kali dalam setahun,” kata Mustamirin.
Ia berterima kasih kepada pemerintah atas pembangunan bendungan yang menjadi cadangan air penting bagi masyarakat NTB, termasuk untuk irigasi ribuan hektare lahan pertanian. “Semoga dengan adanya Tiu Suntuk, hasil panen kami bisa lebih baik,” tambahnya. Bendungan Tiu Suntuk mulai dibangun pada 2020 dan selesai pada 2023, kemudian diresmikan oleh Jokowi pada 2 Mei 2024. Saat peresmian, Jokowi menekankan pentingnya bendungan ini untuk pasokan air warga, baik untuk pertanian maupun kebutuhan sehari-hari.
Bendungan ini memiliki kapasitas 60,8 juta m³ dan akan meningkatkan irigasi di dua kecamatan: Brang Ene dan Jereweh, dengan jaringan irigasi sepanjang sekitar 50 kilometer. Total potensi suplai air irigasi dari bendungan ini mencapai 4.000 hektare, yang diharapkan dapat meningkatkan indeks pertanaman hingga 300 persen, sehingga para petani bisa panen tiga kali dalam setahun.
Selain itu, Bendungan Tiu Suntuk juga menyediakan air baku sebesar 68 liter/detik dan memiliki potensi untuk menghasilkan listrik mikrohidro sebesar 0,8 MW. Dengan luas genangan 321,5 hektare, bendungan ini juga dapat mengurangi risiko banjir di daerah rawan, khususnya di Kecamatan Taliwang.
Bendungan Tiu Suntuk adalah salah satu dari banyak bendungan yang dibangun oleh Jokowi di NTB selama masa pemerintahannya. Dalam sepuluh tahun, dia telah membangun beberapa bendungan, termasuk Bendungan Bintang Bano dan Tiu Suntuk di Sumbawa Barat, serta beberapa bendungan lain di wilayah NTB. Jokowi menargetkan pembangunan 61 bendungan dalam dua periode kepemimpinannya, dan hingga Agustus lalu, 43 bendungan telah diresmikan.
Sejak dilantik pada 2014, pembangunan bendungan menjadi salah satu prioritas Jokowi untuk meningkatkan ketahanan air dan pangan nasional. Investasi dalam pembangunan ini sangat besar, dengan anggaran yang digunakan untuk membangun dan merenovasi bendungan, serta meningkatkan kapasitas penyimpanan dan efisiensi pengelolaannya.
Menurut Direktur Jenderal Bina Konstruksi Kementerian PUPR, bendungan-bendungan ini telah meningkatkan area irigasi, menyediakan tambahan air baku, dan potensi pembangkit listrik. Manfaat nyata dari proyek ini dirasakan oleh masyarakat kecil, seperti Mustamirin dan petani di Brang Ene, yang kini memiliki harapan baru untuk meningkatkan kemakmuran mereka.
Mari kita beralih ke Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), di mana kehidupan warga di wilayah perbatasan dengan Timor Leste juga mengalami perbaikan berkat adanya Bendungan Rotiklot.
Semua orang paham bahwa NTT memiliki iklim tropis kering, dengan musim hujan yang singkat antara Januari dan Maret. Setelah itu, kemarau panjang membuat tanah menjadi kering. Warga sangat bergantung pada curah hujan untuk pertanian. Jika hujan dalam tiga bulan itu baik, mereka berharap panen yang baik; sebaliknya, jika hujan sedikit, panen bisa gagal.
“Jika curah hujan bagus, panen akan baik; jika tidak, hasilnya nihil,” jelas Markus Taus, Kepala Desa Fatuketi di Kabupaten Belu.
Untuk mengatasi masalah kekeringan, Bendungan Rotiklot dibangun pada 2015 dan mulai beroperasi tiga tahun kemudian, diresmikan oleh Jokowi pada 2019. Bendungan ini terhubung dengan Sungai Mota Rotiklot sejauh 6,41 km dan memiliki luas daerah aliran sungai 11,69 km². Dengan kapasitas tampungan 2,9 juta m³, bendungan ini dapat mengairi lahan pertanian.
Bendungan Rotiklot memberikan dampak besar bagi para petani. Sawah dan ladang yang biasanya kering saat kemarau kini mendapatkan pasokan air. Sekitar 139 hektare lahan padi dan 500 hektare lahan palawija kini teririgasi.
Selanjutnya, mari kita dengar dari Dian di Kupang, NTT. Ia merasa nenek moyangnya kurang beruntung karena hanya mengandalkan hujan untuk bertani. Seperti Belu, Kupang juga mengalami curah hujan yang rendah, sehingga tanah sulit untuk ditanami.
“Sekarang, petani bisa menanam lebih cepat dan mudah mendapatkan air,” ujar Dian.
Perubahan ini terjadi setelah pembangunan Bendungan Raknamo. Bendungan yang dibangun antara 2014 hingga 2018 ini kini mampu mengalirkan air ke 1.200 hektare sawah. Warga sangat merasakan manfaat dari bendungan ini.
“Penghasilan petani di desa kami sudah meningkat pesat sejak Bendungan Raknamo dibangun,” ungkap Dian.
Sumber : liputan6.com
