Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana didampingi Wakil Menteri Pariwisata, Ni Luh Puspa, saat menyampaikan Laporan Bulanan Kinerja Kemenpar di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Rabu (9/9/2026). Foto/Dok: Ist-Kemenpar
JAKARTA, NEINEWS – Sektor pariwisata Indonesia menunjukkan pertumbuhan positif hingga Juli 2026. Kondisi tersebut terlihat dari meningkatnya kunjungan wisatawan mancanegara (wisman), perjalanan wisatawan nusantara (wisnus), hingga tingkat okupansi hotel.
Kementerian Pariwisata mencatat, kunjungan wisman ke Indonesia sepanjang Januari hingga Juli 2026 mencapai 8,98 juta kunjungan, atau tumbuh 5,23 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan, capaian tersebut menjadi indikator bahwa sektor pariwisata nasional masih memiliki daya tahan di tengah dinamika global dan berbagai tantangan di dalam negeri.
“Capaian ini tentu patut kita syukuri. Namun pada saat yang sama, situasi global masih sangat dinamis. Karena itu, Kementerian Pariwisata terus melakukan mitigasi, memperkuat strategi pasar, dan memastikan agar momentum pertumbuhan ini dapat terus dijaga hingga akhir tahun,” kata Widiyanti dalam Laporan Bulanan Kinerja Kemenpar di Jakarta.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) juga menunjukkan bahwa pada Juli 2026 saja, jumlah kunjungan wisman mencapai 1,53 juta kunjungan, meningkat 2,95 persen secara tahunan.
Pada periode yang sama, perjalanan wisatawan nusantara mencapai 107,44 juta perjalanan, tumbuh 7,23 persen dibandingkan Juli 2025. Sementara perjalanan wisatawan nasional ke luar negeri tercatat 802,67 ribu perjalanan, turun 7,73 persen secara tahunan.
Devisa Pariwisata Capai Rp145,13 Triliun
Pertumbuhan sektor pariwisata juga tercermin dari penerimaan devisa.
Kementerian Pariwisata mencatat devisa pariwisata pada Semester I 2026 mencapai 8,43 miliar dolar AS, atau sekitar Rp145,13 triliun. Angka tersebut meningkat 2,88 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang tercatat sebesar 8,20 miliar dolar AS.
Pada triwulan II 2026, devisa pariwisata tercatat mencapai 4,39 miliar dolar AS atau sekitar Rp76,99 triliun.
Menurut Widiyanti, dampak pariwisata tidak hanya diukur dari jumlah wisatawan yang datang, tetapi juga dari nilai ekonomi yang ditinggalkan melalui transaksi akomodasi, kuliner, transportasi, hingga pembelian produk usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).
“Pariwisata bukan hanya tentang berapa banyak wisatawan yang datang, tetapi seberapa besar nilai ekonomi yang mereka tinggalkan di Indonesia dan seberapa luas manfaatnya dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Wisnus Jadi Penopang Pertumbuhan
Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa mengatakan, pertumbuhan sektor pariwisata juga ditopang tingginya mobilitas masyarakat di dalam negeri.
Secara kumulatif, Januari hingga Juli 2026 tercatat 737,85 juta perjalanan wisatawan nusantara, meningkat 3,34 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Di sisi lain, perjalanan masyarakat Indonesia ke luar negeri sepanjang Januari-Juli 2026 mencapai 5,26 juta perjalanan atau turun 3,25 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kondisi tersebut membuat Indonesia mencatat surplus perjalanan wisata sebesar sekitar 3,71 juta perjalanan.
Okupansi Hotel Ikut Menguat
Pertumbuhan aktivitas wisata juga tercermin dari kinerja industri perhotelan.
Kemenpar mencatat tingkat okupansi hotel berbintang secara kumulatif Januari hingga Juli 2026 mencapai 49,13 persen, meningkat 2,36 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara berdasarkan data BPS, tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang pada Juli 2026 mencapai 54,54 persen, naik 1,75 poin persentase dibandingkan Juli 2025.
Ni Luh Puspa menegaskan, pemerintah tidak hanya mengejar peningkatan jumlah wisatawan. Pertumbuhan pariwisata juga diarahkan agar menghasilkan lama tinggal, peningkatan belanja wisatawan, aktivitas usaha serta manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat di destinasi.
Pemerintah Dorong Pariwisata Berkualitas
Kementerian Pariwisata menyatakan pertumbuhan sektor pariwisata harus berjalan beriringan dengan aspek keselamatan dan kualitas destinasi.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah memperkuat program peningkatan keselamatan berwisata, termasuk pelatihan keselamatan wisata bahari di delapan provinsi.
Pelatihan tersebut melibatkan pengelola destinasi, kelompok sadar wisata, pemandu wisata, pelaku usaha pariwisata dan masyarakat pesisir.
Materi yang diberikan mencakup identifikasi potensi bahaya, pemanfaatan informasi cuaca, prosedur tanggap darurat hingga teknik penyelamatan dasar.
“Keselamatan bukan sekadar pelengkap. Keselamatan adalah fondasi dari pariwisata yang berkualitas,” kata Ni Luh Puspa.
Selain itu, Kemenpar juga mulai mempersiapkan pelaksanaan Karisma Event Nusantara (KEN) 2027 dengan target dukungan terhadap 125 event daerah.
Pemerintah menilai event tidak hanya berfungsi mendatangkan keramaian, tetapi juga dapat memperkuat identitas destinasi, meningkatkan kunjungan wisatawan, melibatkan UMKM serta menciptakan dampak ekonomi bagi masyarakat.
Hingga 1 September 2026, Indonesia juga telah memiliki 6.400 desa wisata. Pengembangan desa wisata dinilai penting karena manfaat pertumbuhan pariwisata dapat dirasakan langsung oleh masyarakat di tingkat lokal.
Kemenpar menyatakan, momentum pertumbuhan pariwisata tersebut akan terus dijaga melalui penguatan promosi, diversifikasi pasar, pengembangan destinasi, peningkatan keselamatan serta kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, pelaku industri dan masyarakat.
Pemerintah juga menghadapi sejumlah tantangan, termasuk bencana alam yang berdampak terhadap destinasi wisata dan konektivitas.
Karena itu, strategi pengembangan pariwisata ke depan tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan jumlah kunjungan, tetapi juga membangun sektor pariwisata yang lebih berkualitas, aman, berkelanjutan dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat. (Kemenpar)
Editor: Alfridho Ade Permana













