Direktur RSHD Kota Bengkulu, dr. Lista Cerlyviera, M.M., memberikan klarifikasi terkait video viral pasien. Foto/Dok: Ist-Neinews
BENGKULU, NEINEWS – Menanggapi video viral yang memperlihatkan keluarga pasien mengaku telah berkeliling ke lima rumah sakit di Kota Bengkulu, Direktur Rumah Sakit Harapan dan Doa (RSHD) Kota Bengkulu, dr. Lista Cerlyviera, M.M., memberikan klarifikasi terkait kronologi pelayanan yang diberikan pihak rumah sakit.
Menurut dr. Lista, pasien tiba di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSHD sekitar pukul 17.00 WIB dan langsung mendapatkan pemeriksaan oleh dokter jaga sesuai prosedur pelayanan.
Dari hasil pemeriksaan awal, pasien diduga mengalami suspek campak (measles) sehingga dokter menyimpulkan pasien memerlukan perawatan inap.
“Pasien datang ke IGD dan langsung diperiksa oleh dokter. Dari hasil pemeriksaan, pasien memang dinyatakan harus menjalani rawat inap karena diduga menderita suspek campak,” ujar dr. Lista kepada Neinews, Sabtu (1/8/2026).
Ia menegaskan bahwa pasien tidak pernah ditolak untuk mendapatkan pelayanan medis di RSHD. Pemeriksaan dan penanganan awal tetap dilakukan sesuai standar operasional sejak pasien tiba di IGD.
“Pasien tidak kami tolak. Sejak datang langsung diperiksa dokter dan memang direkomendasikan untuk dirawat inap,” tegasnya.
Setelah pemeriksaan selesai, keluarga pasien diarahkan menuju bagian pendaftaran untuk proses administrasi sekaligus dilakukan pengecekan ketersediaan ruang rawat inap.
Namun, berdasarkan hasil pengecekan, seluruh ruang rawat inap di RSHD saat itu sedang dalam kondisi penuh.
dr. Lista menjelaskan bahwa bagi peserta BPJS Kesehatan, apabila ruang sesuai hak kelas perawatan tidak tersedia, pasien dalam kondisi tertentu dapat ditempatkan sementara pada kelas perawatan yang lebih tinggi selama masih tersedia tempat tidur.
Akan tetapi, pada saat pasien datang, seluruh ruang perawatan mulai dari kelas III, kelas II hingga kelas I telah terisi penuh.
“Memang semuanya sedang penuh, sehingga pasien tidak bisa kami titipkan ke ruang perawatan lain,” katanya.
Menurutnya, kondisi keterisian tempat tidur yang tinggi tidak hanya terjadi di RSHD, tetapi juga dialami sejumlah rumah sakit lain di Kota Bengkulu karena meningkatnya jumlah pasien yang membutuhkan perawatan.
Selain persoalan keterbatasan tempat tidur, kondisi pasien yang diduga menderita campak juga menjadi pertimbangan penting dalam penempatan ruang perawatan.
dr. Lista menjelaskan bahwa pasien dengan dugaan penyakit menular tidak dapat ditempatkan bersama pasien lain yang memiliki diagnosis berbeda karena berisiko menularkan penyakit serta bertentangan dengan standar operasional prosedur (SOP) rumah sakit.
“Pasien dengan dugaan campak tidak bisa digabung dengan pasien penyakit lain. Kalau dipaksakan, justru berisiko menimbulkan masalah baru dan tidak sesuai SOP,” jelasnya.
Karena itu, pihak rumah sakit harus memastikan pasien ditempatkan pada ruang yang sesuai dengan kondisi medisnya demi menjaga keselamatan seluruh pasien yang sedang menjalani perawatan.
Lebih lanjut, dr. Lista mengungkapkan bahwa pihak RSHD sebenarnya masih berupaya memberikan solusi kepada keluarga pasien.
Salah satunya dengan meminta keluarga menunggu sementara sembari petugas membantu mencari rumah sakit lain yang masih memiliki ruang rawat inap melalui koordinasi antar fasilitas kesehatan.
Namun, menurutnya, proses tersebut belum sempat dilakukan karena keluarga pasien lebih dahulu merasa kecewa dan kemudian membuat video yang akhirnya viral di media sosial.
“Belum sempat kami edukasi mengenai mekanismenya, apakah menunggu dulu atau kami membantu mencarikan rumah sakit lain. Keluarga sudah lebih dulu emosi dan membuat konten di media sosial,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan bahwa berdasarkan informasi yang diterima pihak rumah sakit, sebelum tiba di RSHD keluarga pasien telah mendatangi beberapa rumah sakit lainnya.
dr. Lista mengakui bahwa pada musim meningkatnya kasus penyakit tertentu, kapasitas tempat tidur di sejumlah rumah sakit memang dapat mengalami keterbatasan.
Menurutnya, dalam kondisi seperti itu koordinasi antar rumah sakit bersama Dinas Kesehatan menjadi sangat penting agar pasien tetap memperoleh pelayanan sesuai kebutuhan medisnya.
Ia menambahkan, apabila seluruh ruang perawatan di RSHD penuh, pasien sebenarnya dapat diarahkan ke rumah sakit lain yang masih memiliki kapasitas melalui sistem koordinasi dan rujukan yang berlaku.
Menanggapi informasi yang berkembang di media sosial, dr. Lista menyayangkan munculnya anggapan bahwa pasien ditolak tanpa disertai penjelasan mengenai kondisi sebenarnya.
“Kami tidak menolak pasien. Pasien sudah diperiksa dokter dan telah direkomendasikan untuk dirawat inap. Kendalanya saat itu adalah seluruh ruang perawatan sedang penuh, ditambah pasien diduga menderita penyakit menular sehingga penempatannya harus mengikuti SOP. Kami tetap berkomitmen memberikan pelayanan sesuai prosedur demi keselamatan seluruh pasien,” tegasnya.
dr.Lista mengimbau masyarakat agar tidak terburu-buru menyimpulkan informasi yang beredar di media sosial tanpa mengetahui kronologi secara utuh.
Pihaknya tetap membuka ruang komunikasi bagi keluarga pasien maupun masyarakat yang membutuhkan penjelasan terkait pelayanan di RSHD Kota Bengkulu.
Menurutnya, RSHD Kota Bengkulu selalu terbuka memberikan penjelasan kepada masyarakat dan akan terus berupaya meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan melalui koordinasi dengan seluruh fasilitas kesehatan di Kota Bengkulu.
“Kami berkomitmen memberikan pelayanan kesehatan yang profesional, humanis, dan mengutamakan keselamatan pasien. Masukan dari masyarakat akan menjadi bahan evaluasi kami untuk terus meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di RSHD Kota Bengkulu,” pungkasnya.
Reporter: Alfridho Ade Permana













