Yayasan Putra ‘Ilmi Nusantara Cetak Kreator Film Dokumenter Budaya Dol

Pelestarian budaya kini memanfaatkan kekuatan media digital. Yayasan Putra ‘Ilmi Nusantara resmi membuka Pelatihan Pembuatan Film Dokumenter Alat Seni Tradisional Dol yang diikuti 50 peserta dari berbagai kalangan. Diharapkan lahir karya-karya dokumenter yang mampu memperkenalkan Dol sebagai kebanggaan Bengkulu hingga ke tingkat nasional dan internasional. Foto/Dok: Ist- NEINEWS

BENGKULU, NEINEWS – Yayasan Putra ‘Ilmi Nusantara resmi membuka Pelatihan Pembuatan Film Dokumenter Alat Seni Tradisional Bengkulu (Dol) sebagai Alat Tabuh Genderang Terbesar di Dunia di Kota Bengkulu, Rabu (5/8/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya daerah melalui pemanfaatan media digital dan perfilman dokumenter sebagai sarana edukasi, dokumentasi, sekaligus promosi budaya hingga ke tingkat nasional dan internasional.

Sebanyak 50 peserta yang berasal dari kalangan pelajar, mahasiswa, komunitas film, pegiat seni budaya, dan masyarakat umum mengikuti pelatihan tersebut. Mereka dibekali kemampuan memproduksi film dokumenter yang tidak hanya berkualitas secara teknis, tetapi juga mampu mengangkat sejarah, filosofi, dan proses pembuatan alat musik tradisional Dol secara utuh.

Pembukaan kegiatan berlangsung di Sekretariat Yayasan Putra ‘Ilmi Nusantara dan dihadiri Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Bengkulu Iskandar M. Siregar, Ketua Yayasan Putra ‘Ilmi Nusantara Julia Syafari, Ketua Panitia Apen Putra Utama, M.Pd, Instruktur Pelatihan Ahmad Zam Zami, serta budayawan Bengkulu Benny Hakim Bernadie, SH.

Dalam sambutannya, Ketua Yayasan Putra ‘Ilmi Nusantara, Julia Syafari, menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak cukup dilakukan melalui pertunjukan atau kegiatan seremonial semata. Menurutnya, dokumentasi yang baik menjadi kunci agar warisan budaya dapat terus dipelajari oleh generasi mendatang.

“Film dokumenter merupakan media yang efektif untuk merekam fakta, sejarah, proses kreatif, serta nilai-nilai budaya yang terkandung dalam alat musik tradisional Dol. Kami berharap pelatihan ini mampu melahirkan generasi muda yang tidak hanya mahir membuat film dokumenter, tetapi juga memiliki kepedulian tinggi terhadap pelestarian budaya daerah,” ujarnya.

Julia menambahkan, Dol merupakan identitas budaya masyarakat Bengkulu yang harus terus dijaga, didokumentasikan, dan diperkenalkan kepada masyarakat dunia.

Sementara itu, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Bengkulu, Iskandar M. Siregar, memberikan apresiasi atas inisiatif Yayasan Putra ‘Ilmi Nusantara dalam menyelenggarakan pelatihan tersebut. Ia menilai dokumentasi budaya melalui film menjadi strategi penting untuk menjaga keberlanjutan warisan budaya di tengah perkembangan teknologi informasi.

Menurutnya, Dol bukan sekadar alat musik tradisional, tetapi juga memiliki nilai sejarah, sosial, budaya, dan religius yang melekat dalam kehidupan masyarakat Bengkulu. Karena itu, dokumentasi yang dilakukan secara profesional akan menjadi arsip budaya yang sangat berharga bagi generasi sekarang maupun mendatang.

Pelestarian budaya kini memanfaatkan kekuatan media digital. Yayasan Putra ‘Ilmi Nusantara resmi membuka Pelatihan Pembuatan Film Dokumenter Alat Seni Tradisional Dol yang diikuti 50 peserta dari berbagai kalangan. Diharapkan lahir karya-karya dokumenter yang mampu memperkenalkan Dol sebagai kebanggaan Bengkulu hingga ke tingkat nasional dan internasional. Foto/Dok: Ist- NEINEWS

Ketua Panitia, Apen Putra Utama, M.Pd, menjelaskan pelatihan berlangsung selama lima hari dengan kombinasi pembelajaran teori dan praktik lapangan.

“Hari pertama peserta mendapatkan materi tentang konsep film dokumenter, penulisan naskah, penyusunan alur cerita, teknik pengambilan gambar, tata suara, hingga penyuntingan video. Selanjutnya peserta melakukan riset, observasi, wawancara, dan pengambilan gambar proses pembuatan Dol secara langsung. Pada hari terakhir, setiap kelompok akan mempresentasikan hasil film dokumenter yang telah diproduksi sebagai bentuk evaluasi dan apresiasi,” jelasnya.

Sebagai instruktur pelatihan, Ahmad Zam Zami membekali peserta dengan materi produksi film dokumenter mulai dari perencanaan produksi, penyusunan konsep cerita, teknik pengambilan gambar, wawancara, pencahayaan, perekaman audio, hingga proses editing.

Ia menekankan bahwa film dokumenter harus mampu menyajikan fakta yang kuat dengan visual yang menarik serta narasi yang komunikatif agar mampu memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai pentingnya pelestarian budaya.

Selain materi teknis perfilman, peserta juga memperoleh pembekalan mengenai sejarah dan nilai budaya Dol dari budayawan Bengkulu, Benny Hakim Bernadie, SH.

Menurut Benny, dokumentasi proses pembuatan Dol sangat penting karena tidak hanya merekam hasil akhirnya, tetapi juga seluruh pengetahuan tradisional yang dimiliki para perajin, mulai dari pemilihan bahan baku, teknik pembuatan, hingga filosofi yang terkandung dalam setiap tahapan produksinya.

“Pengetahuan tersebut merupakan warisan budaya tak benda yang harus dijaga keberlangsungannya melalui dokumentasi yang berkualitas,” katanya.

Melalui pelatihan ini, Yayasan Putra ‘Ilmi Nusantara berharap lahir karya-karya film dokumenter yang mampu menjadi media edukasi, promosi budaya, sekaligus arsip digital mengenai alat musik tradisional Dol sebagai salah satu kebanggaan masyarakat Bengkulu.

Hasil karya para peserta nantinya diharapkan dapat dipublikasikan melalui berbagai media, diputar dalam kegiatan kebudayaan, dimanfaatkan sebagai bahan pembelajaran, serta memperluas pengenalan Dol kepada masyarakat Indonesia hingga mancanegara.

Pelatihan ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara pemerintah, lembaga kebudayaan, yayasan, budayawan, praktisi perfilman, dan masyarakat dapat menjadi langkah strategis dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya bangsa melalui media dokumenter yang edukatif dan inspiratif.

Reporter: Alfridho Ade Permana