Setelah terjadi kericuhan, polemik mengenai perebutan takhta Keraton Kasepuhan Cirebon kembali mencuat.

kasepuhan cirebon (foto : jabar.inews.id)
kasepuhan cirebon (foto : jabar.inews.id)

Bengkulu, Neinews.Org –Polemik mengenai perebutan takhta Sultan Keraton Kasepuhan Cirebon kembali muncul, menyebabkan ketegangan bahkan kericuhan di kawasan keraton. Penyebab kericuhan tersebut belum jelas, tetapi terjadi setelah kedatangan perwakilan Heru Nursyamsi, yang mengklaim sebagai Sultan. Panglima Tinggi Laskar Agung Macan Ali Nuswantara, Prabu Diaz, menyatakan bahwa delegasi Heru, Mahesa, datang untuk membahas siapa yang berhak menjadi sultan dan meminta agar kedua kubu berdiskusi. Diaz terkejut dengan kericuhan yang terjadi, meskipun ia telah menjamin keamanan untuk pihak Heru.

Diaz merasa kecewa dengan oknum yang membuat situasi menjadi ricuh, mengingat niat baik untuk mencari solusi. Polemik ini mencuat setelah beredarnya surat yang mengangkat Habib Lutfi sebagai ketua Dewan Kalungguhan Kasultanan Cirebon. Meskipun awalnya tidak menghiraukan isu tersebut, Diaz banyak ditanya oleh orang-orang dan akhirnya mencari klarifikasi dari keraton, yang menegaskan bahwa saat ini takhta dipegang oleh Sultan Sepuh XV.

Menurut para sesepuh Cirebon, untuk menjadi sultan, harus mengikuti tradisi yang sudah ada, termasuk upacara pengangkatan yang melibatkan pusaka Sunan Gunung Jati. Diaz berkomitmen untuk menjembatani penyelesaian konflik ini dan mempertemukan pihak-pihak yang mengklaim berhak atas tahta. Ia menekankan pentingnya musyawarah untuk menjaga marwah leluhur dan menghindari perselisihan. Selain pihak Heru Nursyamsi, ada juga pihak dari keluarga Rahardji Jali yang mengklaim hak atas keraton. Diaz menyatakan perlunya melibatkan berbagai unsur, termasuk pemerintah dan ahli sejarah, untuk menyelesaikan permasalahan ini secara menyeluruh. Hingga kini, belum ada tanggapan dari kubu Heru Nursyamsi terkait situasi yang terjadi.

Sumber : liputan6.com