Jalan Provinsi di Napal Putih Rusak Parah, Tambang Batubara Dituding Jadi Biang Kerok

Kondisi Pinggiran Ruas Jalan Provinsi yang Tergerus Tambang Batubara Milik PT Bara Adhipratama (Bama). Foto/Dok: Ist

NEINEWS, Bengkulu Utara – Jalan provinsi yang membentang dari Kecamatan Napal Putih menuju Ketahun, Kabupaten Bengkulu Utara, kini tinggal menunggu waktu untuk benar-benar putus. Kondisinya rusak parah, terutama di Desa Tanjung Alai, sepanjang kurang lebih 100 meter. Aspal nyaris hilang, tersisa batu dan tanah yang kian hari terus terkikis.

Tim media ini yang melakukan investigasi ke lokasi pada 2 Oktober 2025 mendapati jalur vital masyarakat itu tampak mengenaskan. Akses utama yang seharusnya menopang mobilitas warga justru menjelma seperti kubangan maut: bergelombang, licin saat hujan, berdebu ketika panas.

Warga: Satu Dekade Dibiarkan Tanpa Perbaikan

Bagi warga, kerusakan jalan ini bukanlah cerita baru. Sejak lebih dari 10 tahun terakhir, jalan provinsi ini tak pernah tersentuh perbaikan. Keluhan sudah berulang kali disuarakan, namun seakan tenggelam tanpa jawaban.

“Jalan ini akses vital kami ke ibu kota kabupaten maupun ke provinsi. Sudah lebih dari 10 tahun rusak dan belum ada perhatian dari pemerintah. Kami sangat berharap Pemprov segera turun tangan,” tegas AK (50), warga Napal Putih.

Tambang Batubara Disinyalir Perparah Kerusakan

Yang membuat situasi kian pelik, warga menuding aktivitas pertambangan batubara di sekitar kawasan turut mempercepat kerusakan jalan. Salah satu perusahaan, PT Bara Adhipratama (Bama), diduga melakukan pengerukan hingga mendekati badan jalan.

“Bekas galian tambang tidak direklamasi. Tanahnya terus longsor dan semakin menggerus badan jalan. Kalau dibiarkan, bukan hanya rusak, tapi jalan ini bisa benar-benar putus,” tambah AK dengan nada geram.

Pantauan di lapangan memperlihatkan tanda-tanda longsor kecil di tepi jalan yang bersebelahan langsung dengan lahan bekas tambang. Setiap kali hujan deras, material tanah dan batu runtuh ke badan jalan, mempersempit jalur dan mengancam keselamatan pengendara.

Perusahaan Bungkam, Pemerintah Diam

Media ini mencoba meminta klarifikasi pihak PT Bama terkait tudingan warga. Namun hingga berita ini diterbitkan, pesan konfirmasi yang dikirim via WhatsApp tak kunjung dibalas.

Ironisnya, pemerintah provinsi maupun kabupaten juga belum menunjukkan langkah nyata. Padahal, jalan Napal Putih–Ketahun adalah nadi perekonomian masyarakat. Jika akses ini putus, distribusi barang, hasil perkebunan, hingga aktivitas sosial masyarakat akan lumpuh total.

Warga Mendesak: “Jangan Lagi Kami Dianaktirikan”

Kemarahan warga bukan tanpa alasan. Di tengah janji pembangunan infrastruktur, mereka merasa terpinggirkan. Jalan yang mereka lalui sehari-hari justru lebih mirip jalur tambang ketimbang fasilitas publik.

“Jangan sampai kami merasa dianaktirikan. Jalan ini urat nadi masyarakat. Pemerintah harus segera bertindak sebelum terlambat,” pungkas AK.

Kerusakan jalan di Napal Putih bukan sekadar cerita klasik infrastruktur yang terabaikan. Ada jejak industri ekstraktif yang dituding ikut meninggalkan luka. Sementara itu, pemerintah dan perusahaan masih memilih diam, seolah menunggu hingga jalan benar-benar runtuh.

Reporter: Alfridho Ade Permana
Editor: Anasril Anwar