Advokat Sasriponi Apresiasi Sultan Bachtiar Najamudin Sampaikan Gagasan Green Democracy di COP30 Brasil

Advokat Sasriponi Bahrin Ranggolawe, SH bersama Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin di Gedung DPD RI, Senayan, Jakarta. Foto/Dok: Ist

NEINEWS, Jakarta– Advokat, Sasriponi Bahrin Ranggolawe, SH, memberikan apresiasi tinggi kepada Ketua DPD RI, Sultan Bachtiar Najamudin, yang menyampaikan gagasan Green Democracy dalam forum internasional Conference of Parties (COP) ke-30 di Belem, Brasil.

Menurut Sasriponi, tampilnya Sultan sebagai keynote speaker pada plenary Investment Forum COP30, Kamis (13/11) waktu setempat, merupakan bukti kontribusi nyata Indonesia dalam memperkuat posisi diplomasi iklim di tingkat global.

“Sultan hadir membawa gagasan yang visioner dan sangat relevan dengan tantangan perubahan iklim dunia saat ini. Green Democracy bukan sekadar wacana, tetapi arah baru bagi tata kelola lingkungan dan demokrasi berkelanjutan. Saya mengapresiasi langkah progresif beliau,” ujar Sasriponi kepada media ini, Sabtu (15/11/2025).

Nilai Strategis Green Democracy

Sasriponi menilai gagasan Green Democracy yang disampaikan Sultan sejalan dengan kebutuhan global akan model pembangunan yang lebih adil secara ekologis. Selain membawa perspektif baru, gagasan itu memperkuat diplomasi Indonesia sebagai negara pemilik hutan tropis dan ekosistem mangrove terbesar di dunia.

“Respons positif dari berbagai delegasi membuktikan bahwa gagasan Indonesia dihargai dan relevan. Ini capaian penting bagi bangsa,” tambahnya.

Ia menyebut Green Democracy memiliki pijakan kuat dengan berbagai instrumen kebijakan nasional, termasuk RUU Pengelolaan Perubahan Iklim, RUU Masyarakat Adat, hingga kebijakan Nilai Ekonomi Karbon yang diatur melalui Perpres Nomor 110 Tahun 2025.

Perkuat Diplomasi Iklim Indonesia

Sasriponi menegaskan bahwa kehadiran Sultan di COP30 merupakan dukungan nyata terhadap diplomasi iklim pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

“Indonesia butuh figur yang mampu menyampaikan posisi nasional secara jelas dan kredibel di forum global. Sultan tampil dengan narasi kuat, membawa substansi, dan memahami sepenuhnya potensi ekologi Indonesia,” ujarnya.

Green Democracy sebagai Gerakan Politik Hijau

Ia menilai pendekatan Green Democracy yang diperkenalkan Sultan menjadi terobosan yang menyelaraskan kepentingan politik, lingkungan, dan keadilan ekologis.

“Ini bukan hanya konsep, tetapi arah baru pendidikan politik hijau bagi generasi muda Indonesia. Gagasannya visioner dan aplikatif,” sambung Sasriponi.

Bangga Sebagai Putra Daerah

Menutup pernyataannya, Sasriponi Bahrin Ranggolawe menyampaikan rasa bangganya atas kiprah Sultan yang kembali mengharumkan nama Bengkulu di panggung internasional.

“Beliau tidak hanya mewakili daerahnya, tetapi juga bangsa. Ini kebanggaan tersendiri bagi kami sebagai masyarakat Bengkulu,” tegasnya.

Sasriponi menambahkan bahwa, tampil nya Sultan di forum internasional mengulang kembali sejarah yang dulu juga pernah dilakukan putra daerah sebelumnya, yakni HM Hanafi sebagai Menteri Pengerahan Rakyat dan Dubes di Perancis, Kuba di era pemerintahan presiden RI Sukarno.

Sejarah berulang. Dulu putra daerah dari Lubuk Ngantungan Ulu Talo, Kabupaten Seluma, Bengkulu yakni HM Hanafi menjadi menteri, tokoh besar, Dubes di Perancis era presiden Bung Karno. Hari ini, sejarah itu terulang pada sosok Sultan Bachtiar Najamudin yang berbicara di forum internasional,” ujar Sasriponi.

Setelah menyampaikan gagasannya selama 13 menit, Sultan mendapat apresiasi dari sejumlah negara sahabat yang menilai konsep Green Democracy sangat relevan terhadap agenda ketahanan iklim global.

Reporter: Alfridho Ade Permana