Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid Dalam Wawancara Dengan Majalah L’Essentiel des Relations Internationales, di Jakarta, Rabu (4/6). Foto/Dok: Ist-Kemkomdigi
NEINEWS, Jakarta — Indonesia melangkah lebih jauh dalam memperkuat transformasi digital nasional dengan menjalin kolaborasi strategis bersama Pemerintah Prancis. Melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi), kerja sama ini difokuskan pada dua misi utama yakni mendorong pertumbuhan ekonomi digital, dan membangun ruang siber yang aman, sehat, dan berpihak pada anak.
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menyebut kerja sama ini sebagai bagian dari mandat besar kementeriannya untuk menghadirkan digitalisasi yang berkelanjutan dan berdaulat.
Dalam wawancara dengan majalah L’Essentiel des Relations Internationales, di Jakarta, Rabu (4/6). ia menegaskan bahwa visi Presiden Prabowo Subianto menempatkan digitalisasi sebagai fondasi pelayanan publik, pendidikan, hingga pemberdayaan masyarakat.
“Pekerjaan rumah pertama kami adalah menciptakan ruang digital yang lebih aman. Peraturan ini merupakan langkah yang cukup berani dan progresif,” ujar Meutya.
PP TUNAS: Aturan Baru untuk Ruang Digital yang Melindungi Anak
Salah satu langkah konkret yang diluncurkan Kemkomdigi adalah Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP TUNAS). Regulasi ini mengatur pembatasan usia anak dalam mengakses media sosial pada rentang 16–18 tahun, sebagai upaya merespons eskalasi risiko paparan konten berbahaya terhadap anak-anak.
Langkah ini menandai upaya negara menciptakan ekosistem digital yang tidak hanya canggih secara teknologi, tetapi juga adil dan aman secara sosial.
Tiga Pilar Strategis: Keamanan Siber, Infrastruktur, dan SDM Digital
Meutya menjelaskan bahwa strategi Kemkomdigi saat ini bertumpu pada tiga pilar utama:
Keamanan ruang digital, terutama dalam menghadapi tantangan penyalahgunaan data, hoaks, dan eksploitasi anak di internet.
Penguatan infrastruktur digital, termasuk melalui proyek strategis seperti satelit SATRIA-1 dan pembangunan pusat data nasional.
Pembangunan SDM digital, dengan literasi digital yang menjangkau wilayah 3T serta dukungan terhadap talenta digital lokal, termasuk pelaku industri gim dan startup.
“Kami ingin tidak hanya menciptakan developer gim dalam negeri, tetapi juga membangun pasar yang kuat untuk produk gim lokal,” ucap Meutya.
Kolaborasi dengan Prancis: Berbagi Praktik Terbaik dan Dorong Startup
Dalam dimensi internasional, kerja sama Indonesia–Prancis diarahkan pada penguatan ekosistem startup dan pengembangan inovasi digital yang berkelanjutan. Kedua negara saling berbagi praktik terbaik dalam tata kelola kecerdasan buatan (AI), ekonomi kreatif digital, serta model bisnis baru berbasis teknologi.
Kerja sama ini juga membuka peluang investasi serta kolaborasi teknis, seperti pertukaran pengetahuan dalam desain pusat data yang memenuhi standar kedaulatan data nasional.
Menuju Digitalisasi yang Adil dan Berkeadilan Sosial
Dengan lebih dari 210 juta pengguna internet aktif, Indonesia menghadapi tantangan besar untuk tidak hanya menjadi pasar digital, tetapi juga pemilik masa depan digitalnya sendiri. Visi Kemkomdigi di bawah Meutya Hafid menunjukkan arah yang tegas: digitalisasi harus berpihak pada rakyat, melindungi yang lemah, dan memperkuat posisi Indonesia di panggung global.
“Jika ditanya kepada kami, tentu kami akan memilih kerja sama yang terkait dengan digitalisasi. Salah satunya adalah membangkitkan industri startup dengan berbagi praktik terbaik,” tegas Meutya.
Editor: Alfridho Ade Permana













